Showing posts with label Saving Our Earth. Show all posts
Showing posts with label Saving Our Earth. Show all posts

11.27.2008

Mengubah sampah menjadi energi?


'Jangan membuang sampah sembarangan!'

Sebuah jargon yang lazim digunakan untuk menyelamatkan lingkungan dari tindakan sementara orang yang tidak mengerti akan pentingnya kebersihan. Dalam kehidupan seharihari, sampah identik dengan benda-benda bekas yang kotor dan tidak memiliki nilai guna sama sekali.

Namun, tidak demikian halnya bagi Tim Peneliti di University of California,
Davis, USA yang justru mengumpulkan sampah-sampah untuk dijadikan sebuah proyek penelitian. Sejak akhir tahun 2006, mereka telah memulai sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengubah sampah menjadi energi listrik.

Proyek penelitian ini dinamakan SMUD
(Sacramento Municipal Utility District). Para peneliti ini memanfaatkan bakteri-bakteri pengurai zat organik untuk menghasilkan energi dari sampah-sampah yang telah dikumpulkan. Secara umum terdapat tiga jenis bakteri yang digunakan untuk melakukan proses pengubahan sampah menjadi energi antara lain yaitu bakteri yang mendekomposisi (menguraikan) karbohidrat menjadi senyawa yang lebih kecil antara lain gula, asam amino dan lemak. Bakteri jenis kedua menguraikan senyawa kecil tersebut menjadi molekul yang lebih kecil lagi antara lain hidrogen, asam asetat dan karbondioksida. Ketiga molekul terakhir ini kemudian diolah oleh bakteri jenis ketiga dan menghasilkan karbodioksida dan metana dengan presentase berkisar antara 60 hingga 80%. Metana inilah yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang dapat menghasilkan listrik. Sumber energy alternatif ini ternyata menghasilkan energi yang cukup besar. Sampah sebanyak 1 ton dapat dikonversi menjadi energi sehingga mampu mencukupi kebutuhan listrik tidak kurang dari 18 rumah tangga. Hal ini tentu saja merupakan sebuah terobosan baru dalam bidang penyediaan energy alternatif untuk kehidupan sehari-hari. Kebutuhan listrik hampir seluruh penduduk dunia terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara itu, sampah terus menerus dihasilkan baik oleh rumah tangga, restoran maupun instansi-instansi pemerintah. Ketersediaan listrik yang semakin hari semakin tidak memadai merupakan problem tersendiri yang harus ditemukan solusinya. Demikian juga dengan sampah yang mengancam kelangsungan hidup manusia dari aspek kesehatan lingkungan. Beberapa waktu yang lalu, penanganan sampah sempat memicu timbulnya polemik masyarakat di daerah Jawa Barat, Indonesia. Terobosan baru, yang dapat dinyatakan sebagai bentuk 'menyelesaiakan masalah dengan masalah', patut ditiru oleh masyarakat Indonesia. Secara prinsip memang tidak semua jenis sampah dapat kita ubah menjadi energi melalui metode seperti yang dilakukan oleh Tim peneliti di University of California, Davis. Sampah yang dapat 'disulap' menjadi energi terbatas pada jenis dampah organik. Namun demikian, upaya untuk “menyelesaikan masalah dengan masalah” ini merupakan salah satu bentuk upaya yang patut, setidaknya, dipertimbangkan mengingat ketersediaan energi di Indonesia semakin lama semakin kurang memadai. Dampak komprehensif di masyarakat luas atas masalah 'kelistrikan' ini telah kita rasakan bersama. Demikian juga dengan sampah.
Nah, apakah kita masih akan membuang sampah pada tempatnya? Bagaimana
kalau sampah-sampah itu diberikan bakteri? Bakteri kenyang, kita senang. Sampah hilang listrikpun datang.

Sumber : www.kucingfisika.com

10.26.2008

Tentang Air Bersih di Bumi Kita


Jika lempengan es di Antarika mencair, permukaan laut akan meningkat karena lempengan es Antartika menyimpan hampir 90% es di bumi dan 70% dari air tawarnya.
Jika keseluruhan permukaan esnya mencair, permukaan air laut akan meningkat sekitar 220 kaki, atau setinggi gedung bertingkat 20.
Para ilmuan mengetahui bahwa pencairan es ini sedang tejadi. PBB mengatakan dalam skenario terburuk tergantung dari seberapa peningkatan temperatur global- permukaan air laut akan meningkat sbanyak 3 kaki (1 meter) pada tahun 2100.

Mari sejak sekarang kita belajar untuk SAVE OUR EARTH, karena es adalah mineral (dideskripsikan secara formal sebagai mineral pada Dana's System of Mineralogy) dan rata-rata jumlah air yang digunakan di seluruh dunia setiap harinya adalah sekitar 400 milyar galon, Total persediaan air di bumi ini adalah sebesar total persediaan air di bumi ini adalah 326 juta kubik mil (1 kubik mil air = lebih dari 1 triliun gallon) dan lebih dari 2 juta kubik mil air tawar yang tersimpan di bumi, hampir setengahnya berada 1/2 mil dari permukaan bumi. Mars juga nampaknya memiliki banyak air sekat permukaannya, tapi apa yang terdeksi sampai sejauh ini air ini masih tersimpan di dalam es (belum ada yang memperediksikan berapa banyak yang tersimpan di sana).
Mari kita berhitung berapa lama lagi kita bisa mendapatkan stok air bersih..ck..ck..ck



Hampir 70% Persediaan air tawar di bumi tersimpan di lempengan es Antartica (temperatur terendah yang pernah diukur di bumi adalah -129 derajat fahrenheit atau -89 derajat celcius di Vostok Antartica pada 21 Juli 1983) dan Greenland. Sisa dari persediaan air tawar tersebut terdapat di atmosfir, sungai, danau air bawah tanah yang hanya 1% dari persediaan air di bumi.

Greenland

Antarika

Persentasi air di bumi yang berada dilautan adalah Sekitar 97 %. Lautan menutupi hampir 2/3 dari permukaan bumi.yang artinya jika asteroid menabrak bumi kita kemungkinan terbesarnya adalah menghantam lautan..

Nah tunggu apalagi... AYO.. STOP GLOBAL WARMING.. Mulailah dari diri kita sendiri!

10.17.2008

Efek Rumah Kaca (Green House Effect)


Efek rumah kaca, pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan sebuah proses di mana atmosfer memanaskan sebuah planet.

Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca, tapi artikel ini hanya membahas pengaruh di Bumi.

Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (lihat juga pemanasan global).

Istilah
Istilah Efek Rumah Kaca (green house effect) berasal dari pengalaman para petani di daerah iklim sedang yang menanam sayur-mayur dan bunga-bungaan di dalam rumah kaca. Yang terjadi dengan rumah kaca ini, cahaya matahari menembus kaca dan dipantulkan kembali oleh benda-benda dalam ruangan rumah kaca sebagai gelombang panas yang berupa sinar infra merah. Namun gelombang panas itu terperangkap di dalam ruangan kaca serta tidak bercampur dengan udara dingin di luarnya. Akibatnya, suhu di dalam rumah kaca lebih tinggi daripada di luarnya. Inilah gambaran sederhana terjadinya efek rumah kaca (ERK).

Penyebab
Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.

Akibat
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.

Pemanasan Global (Global Warming)
Pemanasan Global adalah suatu istilah yang menunjukan adalahnya kenaikan rata-rata temperatur Bumi, yang kemudian menyebabkan perubahan dalam iklim. Bumi yang lebih hangat dapat menyebabkan perubahan siklus hujan, kenaikkan permukaan air laut, dan beragam dampak pada tanaman, kehidupan liar, dan manusia. Ketika para ahli ilmu pengetahuan berbicara mengenai permasalahan perubahan iklim, yang menjadi pusat perhatian adalah pemanasan global yang disebabkan ulah manusia.
Mungkin sulit untuk dibayangkan bagaimana manusia dapat menyebabkan perubahan pada iklim di Bumi. Namun, para ahli sepakat bahwa ulah manusialah yang memacu besarnya jumlah gas rumah kaca dilepaskan ke atmosfir dan menyebabkan Buni menjadi lebih panas.


8.26.2008

Ulah Manusia Mengubah Iklim Global

Migrasi burung.
Image courtesy : Jeff Poklen, Science Daily

Perubahan iklim, global warming, memang jadi materi yang tak ada habisnya untuk dibahas. Lihat saja bagaimana tak menentunya iklim saat ini. Apakah ini pengaruh alam yang sedang bergolak atau adakah pengaruh manusia di dalamnya?

Hasil penelitian terbaru dari NASA menunjukan perbuatan manusia dalam kaitan dengan prubahan iklim telah memberi dampak yang sangat luas terhadap sistem alam, termasuk pencairan lapisan es, mekarnya tanaman lebih cepat di Eropa, dan turunnya produktivitas danau di Afrika. Penelitian yang dilakukan oleh Untuk sampai pada kesimpulan hubungan tersebut, dilakukan analisa database lebih dari 29 000 seri data yang didapat dari hasil pengamatan terhadap dampak yang terjadi di sistem alam di Bumi. Data tersebut dikumpulkan dari 80 studi dalam rentang 20 tahun dari 1970 -2004. Dampak yang diamati dalam penelitian ini adalah perubahan dalam sistem fisis sperti glacier yang makin menipis, pencairan dataran es, dan makin hangatnya danau dan sungai. Akibat lainnya juga terjadi pada sistem biologi, seperti daun yang kembali muncul dan bunga yang bermekaran lebih cepat, burung-burung tiba lebih cepat dalam periode migrasi, serta tumbuhan dan hewan yang berpindah dari kutub ke kutub dalam jumlah yang lebih besar. Dalam lingkungan yang kaya air seperti lautan, danau dan sungai, plankton dan ikan juga mulai bergeser dari kondisi adaptasi dingin kini harus bisa beradaptasi dengan air yang lebih hangat.


Keindahan alam Papua. Lautan, dana dan sungai mengalami peningkatan temperatur jadi semakin hangat. Kredit foto : Nggieng

Dalam skala global, 90% hasil pengamatan menunjukan adanya perubahan dalam sistem fisis dan biologi secara konsisten terhadap menghangatnya Bumi. Hal lainnya, perubahan tanah yang juga berubah dari penggunaan hutan ke pertanian ternyata membawa dampak lain. Pada akhirnya kesimpulan yang bisa diambil, manusia memang jadi salah satu faktor penting dalam perubahan iklim yang sedang terjadi di Bumi. Pengaruh itu terjadi lewat peningkatan emisi gas rumah kaca , dan itu terjadi secara global di Amerika, Eropa dan Aisa. Di beberapa benua termasuk Afrika, Amerika Selatan dan Australia, hasil dokumentasi dari pengamatan terhadap perubahan yang terjadi dalam hal fisik dan biologi masih jarang terhadap kaitan pemanasan global tersebut sebagai akibat dari ulah manusia. Masih dibutuhkan pengamatan dan penelitian lebih lanjut untuk benua-benua tersebut untuk mendapatkan hasil yang lebih pasti, karena penelitian disana masih kurang.

Apapun itu mari kita mulai dari diri kita setidaknya untuk membuat lingkungan disekitar kita jadi lebih nyaman untuk dihuni.


Sumber : NASA


Liat juga disini

8.19.2008

Kertas Daur Ulang


Sampah, seringkali dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu, baik pandangan hingga kesehatan. Ada berbagai macam sampah yang antara lain berupa limbah padat maupun limbah cair.

Apa yang dapat kita lakuin? Pertanyaan sederhana, namun memiliki jawaban yang sangat rumit, karena memiliki konsekuensi untuk merubah gaya hidup. Dari pola hidup boros sampah, menjadi gaya hidup ramah lingkungan. Untuk itu, langkah awal adalah mengenali berbagai jenis sampah di lingkungan kita.

Kemudian mengklasifikasinya, mana yang masih bisa dipakai mana yang sudah habis pakai dan mana yang masih bisa diolah/didaur. Secara sederhana sampah dalam rumah dapat dibagi menjadi 3 kategori, yakni sampah beracun, seperti batere bekas, bola lampu bekas dan barang-barang yang mengandung zat kimia. Kemudian sampah padat yang tidak dapat diurai, seperti plastik, botol, kaleng, dsb. Dan terakhir barang-barang yang masih dapat diurai oleh tanah seperti sisa sayuran, daun-daun, dsb.

Gaya hidup ramah lingkungan dikenal pula dengan semboyan 3R : Reduce, Reuse & Recycle. Artinya mengurangi tingkat kebutuhan akan sampah, menggunakan kembali sampah-sampah yang telah ada dan mendaur ulang sampah-sampah yang telah terpakai. Salah satu sampah yang dapat didaur ulang adalah kertas. Kertas daur ulang ini memiliki tekstur yang indah. Dari kertas daur ulang dapat membuat beraneka ragam kerajinan tangan.

Nah...mama seneng banget bikin kertas daur ulang. Gampang kok caranya. Ini step-step nya..


Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan kertas daur ulang :

  • BLENDER, fungsinya untuk menghancurkan kertas menjadi bubur kertas, atau dapat juga dimodifikasi dengan alat penghancur yang lebih besar.
  • BINGKAI CETAKAN, terdiri dari 2 bingkai dengan ukuran yang sama. Salah satu bingkai dilapisi dengan kain kasa.
  • EMBER KOTAK, fungsinya sebagai tempat pencampuran bubur kertas dengan air, sekaligus sebagai wadah pencetakan.
  • ALAS CETAK, fungsinya untuk tempat pengeringan kertas daur ulang dari bingkai cetakan, sehingga bingkai cetakan dapat digunakan kembali. Alas cetak ini bisa berupa tripleks yang dilapisi kain katun atau juga dapat berupa matras yang biasa digunakan untuk alas tidur kemping.
  • SPONDS PENGHISAP, fungsinya untuk menghisap air pada waktu transfer dari bingkai cetakan ke alas cetak.<>
  • ALAT PRESS, fungsinya untuk mengepress kertas daur ulang agar serat-seratnya dapat lebih rapat. Alat ini dapat berupa dua papan kayu yang berukuran sama dengan bingkai cetak, yang keempat sudutnya diberi lubang. Selanjutnya masing-masing lubang diberi mur dan baut penjepit untuk mempertemukan kedua sisi papan kayu tersebut.
  • EMBER wadah bubur kertas
  • KOMPOR & PANCI, fungsinya untuk merebus berbagai macam serat dan pewarna alam
  • ALU & LUMPANG, fungsinya untuk menumbuk berbagai serat agar lebih halus
  • SENDOK KAYU, fungsinya untuk mengaduk berbagai campuran.
  • PISAU & GUNTING, fungsinya untuk memotong-motong serat tumbuhan
  • SARINGAN TEH BESAR KAIN LAP

Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan kertas daur ulang :
1. KERTAS BEKAS Setiap jenis kertas dipilah-pilahberdasarkan jenisnya masing-masing, kertas Koran, kertas HVS, karton hingga kertas warna warni.
2. PEWARNA ALAM Kunyit, jika diparut dan diperas sarinya akan menghasilkan warna kuning Kulit bawang, jika direbus akan menghasilkan warna coklat Pandan suji, jika ditumbuk dan diperas airnya menghasilkan warna hijau pekat Pandan wangi, direbus & ditumbuk lalu diperas airnya menghasilkan warna hijau muda, sekaligus aroma wangi Kesumba, bijinya direndam dan diremas atau direbus menghasilkan warna oranye Serutan kayu nangka. Jika direbus akan menghasilkan warna kuning Sirih, jika ditumbuk dan dicampur dengan kapur akan menghasilkan warna merah Daun pisang kering, dibakar, abunya dapat menghasilkan warna coklat keabu-abuan Rumput putri malu (Mimosa sp) jika direbus akan menghasilkan warna lembayung
3. SERAT PENGISI Merupakan bahan-bahan yang dapat ditambahkan ke dalam campuran bubur kertas sehingga dihasilkan kertas yang lebih indah dan bertekstur. Dapat berupa bunga-bungaan ataupun serat tumbuhan lainnya seperti serat daun pandan wangi, serat batang pisang.

Cara Pembuatan Kertas Daur Ulang

Kertas bekas yang telah disobek-sobek sebesar perangko, direndam minimal 12 jam agar serat-seratnya menjadi lunak diresapi air. Perendaman dapat pula dibantu dengan perebusan untuk mempercepat proses peresapan air. Kertas yang telah lemas direndam air / direbus, dihancurkan dengan blender. Dengan perbandingan 1:4 (4 bagian air untuk 1 bagian kertas). Lama pemblenderan tidak lebih dari 1 menit, sebaiknya dilakukan 2 kali pemblenderan dengan interval 30 detik saja. Bubur kertas yang diperoleh dari pemblenderan dikumpulkan dalam satu wadah. Selanjutnya dapat dilakukan pencucian untuk mengurangi kadar asamnya dengan cara menyaring bubur kertas pada kain yang agak lebar dan meletakkannya di atas ember berisi air. Dengan demikian bubur kertas dapat dicuci sekaligus memisahkan potongan-potongan kertas yang mungkin belum hancur akibat pemblenderan. Selanjutnya bubur kertas siap untuk diolah, dapat dicetak langsung maupun dilakukan pencampuran warna dan serat. Masukan bubur kertas yang hanya bercampur dengan warna saja, atau bercampur dengan serat saja, atau bercampur dengan pewarna dan serat maupun bubur kertas tanpa campuran, kedalam ember kotak tempat cetakan. Perbandingan antara jumlah air dan bubur kertas tetap 4:1 (4 bagian air untuk 1 bagian bubur kertas). Aduk-aduk hingga campuran air dan bubur kertas merata. Masukkan bingkai cetakan, dengan posisi bingkai cetak yang memakai kain kassa berada dibawah dan bingkai kosong dibagian atas sisi kain kassa. Masukkan hingga kedasar ember cetak, dengan hati-hati. Atur posisi bingkai cetak agar datar dan sejajar permukaan air. Kemudian angkat bingkai tersebut dengan hati-hati dalam posisi datar. Bubur kertas akan tercetak dipermukaan bingkai dengan bentuk seperti selembar kertas yang basah. Angkat bingkai penutup dengan cepat, jangan sampai airnya memerciki lembaran kertas yang masih basah tadi. Kemudian ditiriskan dalam posisi miring sekitar 30 derajat hingga airnya tinggal sedikit. Selanjutnya kertas basah tersebut siap untuk ditransfer ke atas permukaan alas cetak untuk dikeringkan. Bingkai cetak dibalik, sehingga kertas basah menghadap ke alas cetak. Letakkan bingkai cetak dengan kertas basah tersebut pada alas cetak dengan hati-hati. Pada bagian atas bingkai cetak atau sisi sebaliknya dari kertas basah dapat dilakukan pengeringan dengan menggunakan spon. Selain untuk mempercepat pengeringan juga untuk mempermudah proses pemindahan kertas. Jika sudah cukup keringda bingkai cetak sudah dapat diangkat dari alas cetak, lakukan dengan hati-hati agar kertas tersebut tidak cacat. Kertas yang telah dipindahkan ke alas cetak tinggal menunggu kering saja, tetapi sebaiknya tidak dijemur dibawah matahari langsung. Dapat juga diselingi dengan pengepresan sewaktu kertas belum kering, dengan cara lapisi setiap lembar kertas dengan kain dan tumpuk sampai beberapa lapis kemudian diletakkan diantara papan pengepresan, lakukan selama kira-kira 10 menit. Jika kertas sudah kering, pengepresan dilakukan selama 1 jam. Pencampuran Warna Bubur kertas yang telah siap diolah, dapat dicampurkan dengan bahan pewarna alam yang telah kita persiapkan sebelumnya. Caranya adalah dengan mencampurkan langsung dan diaduk hingga merata. Selanjutnya dapat dilakukan perebusan jika ingin pencampuran warna yang lebih kuat. Sisa pewarna alam dapat pula dicampurkan ke dalam air diember pencetakan agar tetap membantu menimbulkan warna yang diinginkan. Bubur kertas berwarna pun telah siap untuk diolah lebih lanjut, baik untuk dicetak, maupun dicampur dengan serat pengisi lainnya. Pencampuran Serat a. Gedebok Pisang, Gedebok/batang pisang yang sudah selesai berbuah cincang seperti dadu dengan panjang sekitar 2 cm, jemur sekitar 2 jam untuk menghilangkan getah. Kemudian ditumbuk dengan alu & lumping sehingga agak lunak.Selanjutnya direbus selama 1 jam untuk melunakan seratnya. Kemudian tiriskan. Setelah itu ditumbuk kembali hingga lebih halus. Saring dengan kain untuk dicuci dengan air, agar tinggal serat yang tersisa.Serat yang tersisa dapat langsung dicampur dengan bubur kertas, atau jika dirasa kurang halus, dapat pula dibantu dengan pemblenderan. Selanjutnya dicampurkan sedikit demi sedikit ke dalam bubur kertas, sambil diaduk terus menerus hingga rata.< b. Kulit Bawang Rebus kulit bawang yang sudah digunting-gunting kecildengan air hingga mendidih, sisihkan dan air rebusan jangan dibuang. Hancurkan kuit bawang yang telah direbus dengan menggunakan blender selama 5 - 10 detik.Campurkan secara perlahan kulit bawang yang telah dihancurkan kedalam wadah bubur kertas sambil terus diaduk-aduk hingga merata, jika air rebusan agak kotor dapat dilakukan penyaringan terlebih dahulu. c. Pandan Wangi Rebus potongan pandan wangi (2 cm) selama kira-kira 1 jam, tiriskan.Campurkan air rebusan dengan bubur kertas secepatnya, aduk-aduk hingga rata.

Contoh barang yang bisa dibuat dengan kertas Daur Ulang.

Kertas untuk menggambar karya seni Pembungkus buku, tempat pensil, dan lain-lain Undangan, amplop, map, dll . Kertas daur ulang juga bagus sekali untuk ditempel diatas karya-karya yang bisa anda bikin dari karton. Kotak pensil + bingkai photo Kotak kado




7.15.2008

Danau Terbesar di Dunia "Mendidih"


Suhu rata-rata Danau Baikal, danau air tawar terbesar di Asia dan terdalam di dunia yang terletak di Siberia, Rusia mengalami kenaikan lebih cepat daripada kenaikan rata-rata suhu udara di dunia selama 60 tahun terakhir. Hal tersebut menyebabkan nasib hewan-hewan unik yang hidup di perairan tersebut dalam keadaan terancam punah.

Kenaikan suhu di danau tersebut mencapai 1,21 derajat Celcius sejak 1946 akibat perubahan iklim atau hampir tiga kali lebih cepat daripada kenaikan suhu udara global. Hal tersebut dikatakan Marianne More, seorang profesor di Wellesley College di Massachusetts, AS, salah satu penulis dari karya tulis ilmiah yang akan dipublikasikan dalam jurnal "Global Change Biology" edisi Mei 2008.

Danau yang mengalami perubahan temperatus secara cepat itu memiliki 20 persen ikan air tawar yang ada di dunia yaitu sekitar 2.500 spesies yang tak dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Bahkan, di antaranya terdapat satu-satunya anjing laut air tawar.

Jika tren naiknya temperatur tak dapat dicegah, lapisan es dapat hilang seluruhnya dari permukaan danau tersebut. Moore mengatakan, anjing laut air tawar yang membesarkan anak-anak mereka di atas lapisan es dapat sangat menderita karena hal tersebut. Anak-anak anjing laut air tawar juga lebih rentan terhadap serangan predator jika tak ada lagi gua-gua es sebagai tempat terlindungi.

"Perubahan dari mata rantai bahan makanan juga telah berubah. Jumlah zooplankton multiseluler yang biasanya hidup di air yang jauh lebih hangat telah meningkat menjadi 335 persen sejak 1946, sementara jumlah chlorophyl telah meningkat 300 persen sejak tahun 1979," kata Moore. Selain itu jumlah diatom yang hidup di es yang kemudian mati dan menjadi makanan bagi organisma kecil yang hidup di dasar danau juga makin berkurang.

"Berkurangnya lapisan es akan memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan dengan pemanasan global itu sendiri," tandas Moore. Penemuan tersebut juga berarti hal yang lebih buruk dapat terjadi pada danau-danau yang lebih kecil lainnya. Selama ini, para ilmuwan berangapan volume air yang banyak di danau tak mudah terpengaruh dampak dari pemanasan global, namun kenyataanya sangat rentan.

WAH
Sumber : Antara

Yuk, Bantu Kurangi Global Warming


Fakta
Indonesia masuk dalam daftar Guiness World of Record dan baru saja mendapat gelar The Fastest Forest Destroyer alias penghancur hutan tercepat di dunia.
-Didapat dari Tempo-

Sebagian wilayah Bali diprediksikan akan tenggelam dalam 23 tahun ke depan, sebagai dampak pemanasan global. Pasalnya, saat itu permukaan air laut diperkirakan akan naik sekitar 6 meter, sehingga wilayah pantai wisata seperti Kuta dan Sanur praktis lenyap.
- Sumber nusa bali-

Berikut ini beberapa tips untuk membantu mengurangi pemanasan global (global warming).

1. Kurangi penggunaan tas plastik & kertas
Kalau cuma beli teh kotak 1 dan cemilan 1 bungkus, gak usah pake tas plastik gak papa kan? Bayangkan, kalau dalam satu hari kita bisa mengurangi pemakaian 2 buah tas plastik saja, berarti dalam 1 tahun lebih dari 500 tas plastik yang bisa kita kurangi. Dikalikan satu kampung, satu kota, satu negara… Jadi banyak deh! Mengurangi seperempat jumlah sampah kita sama artinya dengan mengurangi ratusan kilogram emisi karbon dioksida setiap tahunnya.
Untuk keperluan nge-print draft atau corat-coret di kantor, gunakan kertas bekas. Selain menghemat pengeluaran kantor, bayangkan berapa banyak pohon yang akan terselamatkan.


2. Kurangi penggunaan AC
Waktu tidur malam hari, jangan stel AC terlalu dingin. Dengan menaikkan suhu AC kita 2 derajat saja setiap harinya, kita bisa mengurangi penggunaan karbon dioksida hingga 1 ton setiap tahun..Apalagi jika mematikan AC....
Tips menghemat AC:
* Jika ruangan sudah terlalu dingin, kecilkanlah AC
* Tutuplah pintu ruang-ruang yang tidak terpakai, dan tutuplah pintu dan jendela dalam ruangan ber-AC
* Matikan lampu dan alat listrik lainnya saat meninggalkan ruangan
* Gunakanlah lampu kecil yang terfokus ke daerah kerja, seperti untuk membaca, menjahit, menulis, dsb daripada menggunakan lampu besar yang boros.
* Jika membeli lampu belilah lampu fluorescent atau (Compact Fluorescent Light/CFL). Meski lebih mahal harganya namun bisa menghemat 80 persen dan delapan kali lebih lama dibanding lampu pijar

3. Ganti bola lampu dengan lampu hemat energi
Lampu hemat energi (compact fluorescent light atau CFL) nampaknya lebih mahal dibandingkan bohlam lampu biasa. Padahal, lampu jenis ini 10 kali lebih awet, menghemat energi lebih dari 60%, dan panas yang dihasilkan 70% lebih sedikit, sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca.


4. Drive Smart
Oke deh, memang sistem transportasi dan kemacetan di Indonesia yang semrawut mengakibatkan polusi tingkat tinggi. Tapi masih ada hal-hal yang kita bisa kita lakukan kok untuk menghemat energi. Contohnya, menjaga agar ban mobil kita tidak ‘kurang angin’ sehingga lebih hemat bahan bakar.


5. Matikan keran & peralatan listrik yang tidak terpakai
Biasakan untuk mematikan lampu pada saat kita keluar dari ruangan. Matikan juga TV, stereo. Pada saat kita menggosok gigi atau mencuci mobil, matikan keran supaya air tidak terbuang percuma.

6. Matikan Komputer.....
Biasakan mematikan komputer setelah memakainya. Misal: kita biasa tidur mendengarkan mp3 lewat komputer, maka ganti ke mp3 player atau kaset. Ingat Matikan komputer......

7. Tanam pohon,yuk...
Selain menyegarkan mata, ingat kan pelajaran biologi di sekolah dulu.. menanam tanaman akan mengurangi jumlah karbon dioksida di sekitar kita. Tau nggak,menanam tanaman sederhana seperti spider plant (tanaman hias berdaun ramping bergaris-garis putih, banyak dijual di tukang tanaman) saja bisa mengurangi jumlah karbon dioksida di sekitar kita sebanyak 60 persen

8. Gunakan produk-produk yang ramah lingkungan
Berhati-hatilah memilih produk apapun yang kita beli. Misalnya, telitilah apakah sabun cuci yang kita pakai mudah terurai atau tidak. Pilihlah mobil yang hemat bahan bakar, dan komputer atau laptop yang sudah memiliki tanda “energy star”. Untuk membersihkan kamera, laptop, atau aneka gadget lainnya, cukup gunakan Chammy. Chammy dibuat dari 100% chamois leather asli yang diproses melalui proses yang ramah lingkungan, tanpa penggunaan bahan kimiawi. Selain itu, Chammy bisa dipergunakan berulangkali, sehingga amat ekonomis.

Kalau tidak dimulai dari kita, siapa lagi??

Ini Websitenya Green Peace

Ini Websitenya Stop Global Warming

3.10.2008

Global Warning


Pernyataan di bawah berikut ini mungkin akan membuat kita tersentak sekaligus terbelalak. Ia berbunyi: “Pernyataan pemanasan global itu sungguh nyata cuma omong kosong. Pernyataan itu diulang-ulang oleh para aktivis guna meyakinkan sekaligus menakut-nakuti publik bahwa iklim akan berubah menjadi malapetaka, dan aktivitas manusialah penyebab utamanya.” Kalimat itu diucapkan senator AS dari Partai Republik, James Inhofe, yang juga merupakan Ketua Environment and Public Works Committee Senat AS, setahun lalu.

Pernyataan itu diperkuat lagi dengan pernyataan Direktur NASA Michael Griffin dalam wawancara dengan sebuah radio lokal di AS belum lama ini, yang menunjukkan keraguan sang direktur bahwa pemanasan global adalah tantangan terbesar yang harus diatasi manusia. Dalam wawancara tersebut, salah satu petikan pernyataan Griffin yang kemudian banyak dikutip adalah, “Iklim bumi saat ini adalah iklim yang terbaik yang pernah kita punyai.”

Benarkah pemanasan global sungguh-sungguh merupakan akibat dari ulah manusia yang terlalu rakus mengeksploitasi bumi dan ceroboh menjaga keseimbangan alam? Apakah pemanasan global dan perubahan iklim adalah hal terpenting yang harus diatasi manusia?

Inhofe memaparkan beragam fakta dan kutipan yang mendukung argumennya. Menurutnya, media memainkan peranan penting dalam menggelorakan isu yang tidak benar ini. Ia pun mengungkapkan penelusurannya terhadap laporan beberapa media terkemuka seperti Newsweek, Majalah Time, Harian New York Times, Chicago Tribune, dan juga Jurnal Science News. Didapatinya, media-media tersebut pada era tahun 1900-an justru melaporkan kekhawatiran akan datangnya abad es, bukan pemanasan atau melelehnya es. Hingga periode 1920-1930-an sampai menjelang akhir tahun 1970-an, media-media terkemuka di AS itu masih sangat gencar memberitakan dan melaporkan bahaya perubahan bumi menjadi bola es.

Ia pun melecehkan Protokol Kyoto, sebuah protokol yang ditandatangani oleh sebagian besar negara di kolong bumi ini guna mengurangi emisi gas-gas pembentuk rumah kaca di mana AS menolak menandatanganinya, sebagai kesepakatan dan solusi yang tidak ada artinya dalam rangka mengurangi emisi gas-gas berbahaya ke atmosfir bumi. Menurutnya, cara paling efektif untuk mengurangi gas-gas tersebut adalah penggunaan alat pembersih gas dan teknologi yang lebih efisien untuk menekan gas tersebut bertebaran ke angkasa.

Namun pernyataan Inhofe berbau politis itu tak menyurutkan gerakan global di seluruh dunia bahwa ancaman pemanasan bumi sungguh-sungguh nyata dan harus diperangi dari sekarang oleh semua pihak. Inhofe, politisi dari Partai Republik, sebagaimana halnya Presiden AS George W. Bush yang juga dari Partai Republik, jelas tidak mau kepentingan mereka terusik terusik gara-gara harus menekan emisi gas rumah kaca yang di AS sebagian besar dihasilkan dari pembangkit listrik berenergi fosil (BBM, batubara).

Tak hanya Inhofe dan Bush yang bersikap “bebal” terhadap perubahan iklim. Lebih dari 17 ribu ilmuwan -- dua ribu lebih di antaranya adalah fisikawan, geofisikawan, ahli iklim, ahli meteorologi, dan pakar lingkungan- menandatangani petisi yang diedarkan oleh Oregon Institut of Science and Medicine di AS. Salah satu kalimat dalam petisi itu menyatakan, “Tidak ada bukti-bukti ilmiah bahwa pelepasan gas karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan gas-gas rumah kaca lainnya yang mengakibatkan pemanasan akut terhadap temperatur bumi dan kerusakan pada iklim bumi.”

Terlepas dari kenyataan dan pernyataan politik yang diungkapkan di atas, fakta-fakta berikut ini berbicara jauh lebih kuat dan nyata, memperlihatkan ke mana arah perubahan iklim di bumi ini akan menuju dan bermuara.

Fakta-fakta

Kita mulai dari yang jauh dengan kita, Laut Arktik. Lautan ini sebagian besar dikenali sebagai samudera es. Ilmuwan yang mengamati perubahan pada lautan es ini mencatat terjadinya peningkatan panas dua kali lebih cepat dibandingkan pemanasan di tingkat global. Sejak tahun 1980, samudera es yang terletak Arktik yang berada di wilayah Eropa telah mencair antara 20-30 persen.

Masih di Eropa, pegunungan Alpens yang tadinya sebagian besar diselubungi salju mengalami kemerosotan deposit salju yang parah. Delapan dari sembilan area gletser/glacier menunjukkan derajat kerusakan yang signifikan dan dalam kurun waktu satu abad sudah kehilangan sepertiga dari wilayah es.

Tidak hanya di Eropa, seluruh dataran tinggi di dunia yang selama ini dikenal memiliki puncak gunung es juga lumer. Salju di puncak gunung tertinggi di Afrika, Kilimanjaro, setiap bulannya meleleh tak kurang dari 300 meter kubik. Gunung yang terletak di Tanzania ini menderita kebotakan salju parah bilamana membandingkan foto udara yang diambil pada tahun 1974, 1990, dan 2001. Dalam periode satu abad pengamatan, salju di puncak gunung itu meleleh hingga mencapai 82%. Bila salju tak lagi betah hinggap di puncak gunung itu, nama gunung itu boleh jadi harus diubah, karena Kilimanjaro dalam bahasa setempat berarti gunung yang putih atau gunung yang bercahaya.

Mari beralih ke kawasan yang melahirkan banyak seniman bola, Amerika Selatan. Salju di negeri-negeri seperti berdataran tinggi seperti Argentina, Peru, Chili juga menurun drastis. Pegunungan Andes, salah satu surga salju di dunia, mengalami pelelehan salju ke arah puncak gunung yang sangat signifikan. Antara tahun 1963 hingga 1978, salju mencair rata-rata 4 meter per tahun, dan sejak tahun 1995 hingga sekarang, pelelehan salju mencapai kecepatan 30,1 meter per tahun di seluruh kawasan yang mengandung glacier. Sementara di Venezuela, negeri penghasil Miss World terbanyak, dari 6 glacier yang dimiliki negeri tersebut pada tahun 1972, kini hanya tersisa dua lagi, dan akan hilang paling lambat 10 tahun sejak sekarang.

Konsekuensi dari melelehnya salju adalah meningkatnya permukaan air laut, pertama-tama di kawasan tersebut. Di negeri bola Brasil, garis pantai yang hilang menjadi lautan rata-rata berkisar 1,8 meter per tahun pada kurun waktu antara 1915 hingga 1950 dan meningkat menjadi 2,4 meter per tahun pada kurun waktu sepuluh tahun antara 1985-1995.

Apa yang terjadi di Asia, juga di Indonesia, akibat pemanasan global? Sama dengan yang terjadi di benua lain, salju-salju di dataran tinggi Asia mengalami pelelehan yang drastis sekaligus dramatis. Himalaya, gunung tertinggi di dunia yang menjadi kantong air beku di “atap langit” terus kehilangan saljunya secara konsisten. Glacier-glacier di Pegunungan Himalaya yang tersebar di negara-negara seperti India, Tibet, Bhutan, China, terdegradasi dengan amat cepat. Tujuh sungai besar di Asia yang bermata air dari Himalaya yakni Gangga, Indus, Brahmaputra, Mekong, Thanlwin, Yangtze, dan Sungai Kuning terancam eksistensinya yang berakibat pada ratusan juta umat manusia di kawasan sepanjang aliran sungai-sungai itu.

Tak hanya di kawasan Asia Selatan, salju di Asia Tengah yang juga terus lenyap satu per satu. Itu terjadi pula di Puncak Jaya, Papua, satu-satunya daerah pegunungan tinggi di Indonesia yang memiliki salju. Bila foto udara pada tahun 1972 memperlihatkan puncak gunung yang hampir seluruhnya diselimuti salju, sekarang puncak gunung itu hanyalah berisi bebatuan dan pepohonan belaka. Artinya, tidak ada lagi salju di sana.

Pelelehan es yang diungkap di atas baru merupakan sebagian dari yang sebenarnya terjadi. Berdasarkan laporan terakhir Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) terakhir yang dirilis tahun 2007 ini, 30 salju di pegunungan di seluruh dunia kehilangan ketebalan hingga lebih dari setengah meter hingga tahun 2005 saja. Dua tahun yang terakhir belum masuk dalam laporan tersebut.

Konsekuensi dan Risiko

Karena energi bersifat kekal, salju-salju tadi dengan sendirinya tidak hilang dan hanya berubah bentuk. Ibarat es yang ada dalam sebuah gelas, ketika ia terkena panas dan mencair, volume air itu tidak berkurang atau bertambah, melainkan hanya berubah. Maka, konsekuensi pertama dari meningkatnya suhu bumi yang melelehkan salju dan deposit-deposit air tadi adalah kian bertambahnya air di permukaan bumi. Peningkatan tersebut dapat dideteksi di seluruh penjuru bumi dan dibuktikan melalui sejumlah foto udara yang membandingkan suatu kawasan pada puluhan tahun silam dengan kondisi kontemporer.

Namun, konsekuensi meningkatnya suhu bumi tidaklah sesederhana itu. Perubahan-perubahan ekologis yang terjadi pada lingkungan di mana manusia dan makhluk hidup lainnya hidup membawa dampak yang mengerikan bagi umat manusia. Hukum fisika menyatakan, angin bergerak dari tempat yang dingin ke tempat yang lebih panas. Nah, perbedaan temperatur suatu kawasan dengan kawasan lain yang sangat ekstrem pada waktu bersamaan telah memicu munculnya angin topan, badai, dan tornado menjadi lebih sering dibandingkan beberapa tahun silam. Negara-negara di kawasan Amerika Utara, Tengah, Selatan dan Karibia, Eropa, juga Asia Selatan dan Timur sudah merasakan dampak yang ditimbulkan dari topan badai ini. Topan yang memiliki nama-nama nan indah menerpa warga di seluruh bumi secara memilukan dan sekaligus mematikan.

Arus pergerakan air tidak hanya membawa musibah banjir bandang, tetapi juga disertai tanah longsor akibat penggundulan hutan yang berlangsung setiap menit. Dalam waktu bersamaan, belahan dunia yang satu terancam kekeringan dan kebakaran, tempat lainnya dilanda topan badai, banjir dan tanah longsor yang menyengsarakan ratusan juta umat manusia.

Konsekuensi di Tingkat Lokal
Kekeringan di daerah Gunung Kidul misalnya, mungkin saja sudah menjadi fakta jamak yang berlangsung setiap tahun dan sudah sejak puluhan tahun hal itu terjadi. Akan tetapi, kesulitan air yang dialami oleh warga di lereng Gunung Merapi lima tahun terakhir ini misalnya, tentu sebuah fakta baru yang menunjukkan betapa air makin sulit didapat.

Kesulitan para petani sayuran di lereng Gunung Merbabu misalnya, juga sesuatu yang masih terdengar asing. Grojogan Sewu memang masih menumpahkan airnya. Tetapi dibandingkan lima belas tahun silam misalnya, grojogan itu sekarang telah berubah menjadi tak lebih dari pancuran. Beberapa puluh tahun yang akan datang, boleh jadi ia tinggal menjadi tetesan saja.

Itu baru dari sisi kelangkaan air. Dari sisi perubahan iklim, semua kota dan wilayah di Indonesia menjadi korbannya. Di Jawa bagian tengah misalnya, Kaliurang di Jogjakarta, Tawangmangu di Karanganyar, atau Bandungan di Semarang, sekarang bukan lagi didatangi wisatawan karena udaranya yang sejuk dan dingin, tetapi karena kelatahan dan cap yang terlanjut melekat sebagai daerah wisata. Itu saja. Dahulu, di daerah-daerah tersebut kabut dingin senantiasa turun setiap pagi sepanjang tahun. Sekarang, ia hanya bisa dijumpai beberapa kali sepanjang tahun, itupun sangat tergantung dari musim.

Di Puncak Jaya, Papua, salju tidak lagi hinggap di puncaknya sejak beberapa tahun silam. Ini menandai era berakhirnya eksistensi satu-satunya kawasan bersalju di Indonesia. Dan ini sekaligus membuktikan, bahwa bumi yang makin panas bukanlah fakta gombal melainkan kenyataan aktual.

Ironisnya, dalam situasi udara yang makin panas, orang lalu mencari cara untuk mendinginkannya, tetapi hanya untuk diri mereka sendiri. Pendingin udara adalah pilihan pragmatis untuk ini, tetapi alat inipun hanya bisa dijangkau oleh lapisan masyarakat golongan menengah ke atas. Masyarakat miskin jelas tak bisa mengelak dari kegerahan.

Ironisnya, penggunaan pendingin udara yang makin masif dan intensif pada sebagian besar rumah tangga di perkotaan secara akumulatif justru mendorong terciptanya bumi yang makin panas akibat gas-gas yang dihasilkan oleh pendingin udara tersebut tidak ramah lingkungan. Sudah begitu, penggunaan pendingin udara yang intensif itu juga memicu meningkatnya kebutuhan listrik yang terus membesar –yang lagi-lagi ironisnya— sementara listrik tersebut diproduksi dengan menggunakan bahan bakar fosil yang tak ramah terhadap lingkungan dan memberi kontribusi terbesar pada pemanasan secara global.

Lingkaran setan ini jelas menggiring masyarakat yang paling miskin dan tak memiliki akses terhadap sumber daya ekonomi yang memadai menjadi korban. Jumlah masyarakat yang kian tersisih dari lingkaran ini niscaya akan terus membesar karena perseteruan dan kata sepakat tentang upaya kongkret memerangi perubahan iklim ini mengalami kebuntuan yang akut.
Template dibuat oleh : irshadi bagas